Kamis, 26 Maret 2020

Polemik Lebaran 2020


Lebaran memang sebentar lagi, namun sepertinya lebaran tahun ini akan menjadi plemik tersendiri dari lebaran-lebaran sebelumnya. Kejadian luar biasa yang melanda dunia berkenaan dengan virus corona (Covid 19) memang telah menyita banyak sekali perhatian, tidak hanya di Indonesia namun sebagian besar wilayah didunia ini hampir seruluhnya di “hinggapi” virus ini.
Memang banyak usaha untuk menyelesaikan permasalahan ini, mulai dari lockdown yang diterapkan beberapa negara, social distand (jaga jarang di tempat umum), work at home (bekrja dari rumah) dan home school (belajar di rumah).
Kenyataan ini memang telah menggangu atau bahkan boleh dibilang melumpuhkan beberapa sendi kehidupan, baik ekonomi maupun agama. Bagaimana tidak virus yang menyerupai hantu (ada tapi tak terlihat) ini memang cukup menyulitkan penangganannya karena  penyebarannya pun dibilang sangat mudah dan cepat sekali.
Masalah ini pun akan semakin runyam ketika prosesi tahunan mudik sebentar lagi akan tiba, prosesi ini pun seolah telah mengakar dan menjadi budaya tidak hanya di Indonesia saja namun sebagian besar negara di dunia mengenal prosesi mudik dengan istilah mereka masing-masing. Upaya pemerintah dalam menekan penyebaran covid 19 ini pun akan menemui kendala saat prosesi tahunan ini tiba, tanpa kesadaran individu dari masing-masing warga maka akan sangat sulit menekan laju penyebaran virus ini.
Penyebaran dari ODP yang terkadang tidak disadari oleh individu tentunya akan semakin sulit terlacak, dan inilah yang ditakutkan oleh berbagai pihak. Seseorang yang di dalam tubuhnya terdapat virus ini jika daya tahan tubuhnya cukup baik maka dia hanya akan merasahan demam namun tidak akan berpengaruh lebih kepada dirinya karena sistem imunnya bekerja dengan baik dalam mengkal virus, namun orang tersebut masih sangat berpotensi menularkan virus tersebut kepada orang lain di sekelilingnya, yang jika orang-orang di sekelilingnya tersebut dalam kondisi daya tahan tubuh sedang melemah maka akan sangat mudah virus ini menyebar dan memberikan dampak yang cukup buruk kepda dirinya karena sistem imunnya bekerja kurang maksimal dalam menangkal virus yang masuk kedalam tubuhnya. Dan beberapa hal yang menyebabkan menurunnya sistem imun sesorang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain stres, kurang olahraga, kurang tidur, dehidrasi, kurangnya asupan nutrisi yang diperlukan oleh tubuh.  
 Tidak heran jika polemik mudik tahun ini pun akan menjadi perkara yang sangat dikhawatirkan dalam menekan laju penyebaran virus covid 19, karena para pemudik dengan kondisi perjalanan yang cukup melelahkan memang akan menurunkan daya tahan tubuh yang akan menyebabkan menurunnya sistem imun tubuh dan akan menyebabkan kurang maksimalnya proses penangkalan virus yang ada dalam tubuh seseorang.
Sebagai seorang perantauan tentunya tidak bisa disalahkan jika kenginan beretemu keluarga besar dalam momentum lebaran akan sangat diharapkan setelah penat bekerja di tanah rantau, namun keputusan beberapa perusahaan swasta nasional dan BUMN mengagalkan mudik gratis ini pun semakin akan memperparah kondisi, mengapa demikian?, meniadakan moda transportasi mudik gratis justru akan membuat beberapa orang yang nekad melakukan mudik akan sangat sulit terkontrol, justru dengan mudik gratis inilah kontrol terhadap pemudik akan semakin mudah jika bekerja sama dengan berbagai pihak.
Dibeberapa negara memang sangat keras dalam menerapkan lockdown dan social distand bahkan pemerintah tidak tanggung-tanggung akan memberikan sanksi kepada warganya jika kedapatan melakukan perjalanan keluar rumah tanpa ada tujuan yang jelas. Nah sebenarnya ini bisa kita terapkan saat prosesi mudik yang akan datang, jika para pihak bekerja sama dengan baik. Moda angkutan umum berbanyar di tiadakan digantikan dengan mudik gratis dimana para pemudik yang akan melakukan perjalanan mudik gratis tersebut dilakukan cek kesehatan terlebih dahulu sebelum keberangkatan, hal ini akan meminimalisir pencampuran antara ODP, PDP dengan orang yang sehat, dengan pengecekan ini sudah barang tentu akan menghasilkan pemudik yang sehat dalam satu unit moda transportasi dan sebaiknya moda transportasi yang paling tepat adalah moda transportasi gratis berupa bus, mengapa harus bus? Jika moda transportasi gratis tersebut adalah kereta api  dan pesawat maka beberapa pemudik untuk mencapai tujuannya harus melanjutkan lagi dengan transportasi lainnya dan ini pun akan membuat orang tersebut menjadi rawan tertular oleh orang lain lagi saat di transportasi lanjutannya tersebut, namun jika menggunakan bus maka pemudik akan diturunkan di titik-titik yang dekat dengan rumah para pemudi atau paling tidak bisa terjangkau oleh keluarga di rumah yang akan menjemputnya.  
Nah bagi para pemudik yang nantinya diketahui terdapat virus covid 19 saat pengecekan kesehatan maka di wajibkan untuk dikarantina sampai benar-benar bersih dari virus. Permasalahan pun sebenarnya tidak akan selesai sampai disini sebenarnya, namun akan muncul permasalahan baru yaitu saat pemudik pulang menggunakan kendaraan pribadi, tetapi sebenarnya bukan tanpa solusi karena disinilah peran polisi dibantu oleh berbagai pihak untuk melakukan sidak dalam rangka pengecekan semua kendaraan pemudik jika pemudik tidak membawa surat bebas virus maka wajib memerintahkan untuk kembali ke kota perantauan atau disiapkan tenaga medis untuk dilakukan pengecekan di tempat. Namun sebenarnya jika sosialisasi ini dilakukan beberapa hari sebelum kepulangan pemudik maka akan memudahkan pengecekan, jika pemudik telah membawa surat sehat dan surat jalan maka polantaslah yang akan mengawal prosesi mudik dan wajib dilakukan pengawalan agar supaya terkondisikan sampai ke tempat masing-masing.
Nah mungkin itulah beberapa alternatif yang bisa dilakukan karena yang ditakutkan adalah jika diberlakukan pelarangan mudik yang dikhawatirkan justru malah terjadinya mudik ilegal yang tidak terkontrol karena memang baimanapun juga prosesi mudik adalah prosesi yang telah mengakar dan mendarah daging bagi masyarakat Indonesia.